Jumat, 07 September 2018

01/09/2018

Ternyata aku dan kamu cukup sampai disini.

Tak peduli sebesar apa cinta yang ku miliki, masalah memang selalu lebih besar untuk hubungan ini.

Kamu bilang sudah tak yakin denganku. Lalu apa yang harus aku pertahankan? Mencintai dengan sepenuh hati tapi sendirian?
Tidak. Itu sungguh menyedihkan. Juga menyakitkan.

Lagi, dan lagi, masalah ternyata selalu lebih hebat dari cintaku yang tulus.

Cinta mungkin memang serumit ini, dipecahkan oleh masalah yang tiba tiba meledak, merusak ikatan yang dulu dibangun dengan jutaan harapan.

Kramat Jati, 01 September 2018
10.39 WIB

Rabu, 18 Juli 2018

18 Juli 2018

Maaf aku ingin ralat kata-kata aku yang sebelumnya. Aku tidak berjanji akan selalu menunggu kamu. Karena aku tak tahu kapan takdir kematian atau kuasa-Nya yang bisa membulak-balikkan hati aku untuk tetap mendamba kamu atau melepaskan kamu.

Aku disini akan selalu sama dengan hati aku yang tergantung takdir-Nya. Juga tergantung dengan segala perlakuan dari kamu. Akibat tentunya ada karena sebab bukan? Jadi, sekali lagi aku ingin meralat. Hatiku tak akan selalu menunggu kamu. Hatiku bergantung pada takdir-Nya.

Kramat Jati, 18 Juli 2018
20.50 WIB

Minggu, 08 Juli 2018

Hai Cinta

Hai Cinta.
Aku merindukanmu.
Kau tak tahu itu? Ah, sudahlah.
Aku tak mungkin menyatakannya padamu.
Karena sudah tak ada lagi 'kita'.

Hai Cinta.
Aku mendoakanmu.
Selalu begitu. Bahkan tak terhitung sebanyak apa namamu aku rapalkan.
Tak peduli segala asa tentangmu yang telah hancur terkoyak.

Hai Cinta.
Aku masih disini dengan hati yang sama.
Berharap takdir memberikan aku kesempatan bertemu kamu lagi di masa depan untuk menjalin lagi 'kita'.
Harapan yang berpacu dengan takdir walau tak tahu akan seperti apa.

Kramat Jati, 09 Juli 2018
00.47 WIB

Jumat, 06 Juli 2018

Sadar?

Akhirnya aku kembali disadarkan. Bahwa tak ada cinta yang benar-benar harus ada sebelum ikrar suci. Sebesar apapun perasaan cinta yang kau punya, cinta itu tak berhak bertemu sebelum ketentuan itu tiba.

Bukankah 'aku' yang dahulu sudah pernah mengingatkan akan hal itu? Namun mengapa seolah lupa tak peduli segala akibat yang ditimbulkan? Kembalilah wahai diri. Kembalilah mengingat prinsip-prinsip dahulu yang telah dibangun.

Kramat Jati, 06 Juli 2018
22.38 WIB

Senin, 25 Juni 2018

Jangan Mubadzir Makanan

Sebisa mungkin tidak mubadzir menyisakan makanan. Proses bisa jadi makanan itu panjang banget. Mulai dari pengadaan bahan sampai pengolahan jadi makanan melewati banyak stepnya.

Lagi pula, kalo bisa disiplin menentukan sebanyak apa yang diperlukan untuk perut, siapatau bisa membiasakan diri utk disiplin dalam aspek lain.

Kalo emang ga bisa abisin, bisa disisihkan yang pantas utk yang lain. Kalo bersisa makanan kan juga jadi makanan setan.

Kalo kita bisa baik sama diri sendiri atau orang lain, kenapa enggak?

Rabu, 04 April 2018

Umur Seiring dengan Daya Nalar

Umur kita sudah berapa? Hidup lebih dari 10 tahun? 20 tahun? Atau bahkan lebih dari itu? Bertambahnya umur, pasti bertambah juga daya nalar dan pengalaman. Tidak perlu dihitung berapa kali pengalaman pahitnya, pasti sangat banyak. Pengalaman pahit bisa dari apa saja. Misal target yang tertunda atau tidak tercapai, atau bahkan dari hal sepele yang tak terbayang efeknya  menjadi masalah.

Umur sudah dua digit seharusnya lebih baik dalam menyelesaikan masalah. Bukan malah menambahnya walau niatnya mencari solusi. Bahkan seringnya menyalahkan bertubi-tubi sampai puluhan kalimat, tanpa satu kalimat solusi terucap. Salah kaprah. Sibuk mencaci masalah tanpa ada tindakan memperbaiki.

Maunya tak ada masalah? Tidak mungkin! Sampai kapan pun masalah akan selalu ada. Masalah ada pertanda bahwa banyak yang kita kerjakan. Tapi bukan berarti mengerjakan hal yang akan menjadi masalah. Kembali lagi ke daya nalar umur dua digit, pasti menghindari masalah.

Nah, umur bertambah seiring dengan bertambahnya daya nalar. Jangan lupa berusaha melakukan sesuatu sesuai aturan. Masalah hanya penghambat sesaat jika solusi segera dicari. Semangat memperbaiki diri dan sikap.

#NOTETOSELF #SELFREMINDER

Kramat Jati, 04 April 2018
23.40 WIB

Kamis, 15 Maret 2018

06 November 2017

Kemarin sore ada seorang bapak customer bule yang nanyain semua product OTC flu & cough. Juga nanyain balsem kayak vapo*, capl*ng, gelig*. Sama products permen-permen pelega tenggorokan. ED, cara pakai dan perbedaan semua brand ditanyain. Aktif banget nanyanya set dah😂

Btw katanya obat dan penanganan medis di Taiwan lebih murah dibanding Indonesia loh. Wah iyakah? Semoga aja Indonesia bisa lebih maju dalam bidang kesehatannya. Sehat itu wajib dan pastinya enak ya kannn.

Balik lagi ke bule tadi, dia udah nanya sebanyak itu dan ternyata ga jadi guys belanjanya😂 Malah bilang ''I wanna go to the another store and trying to search the different price.''. Aku rapopo pak 😂 Ini nih orang jeli banget, lyk ibu2 nyari harga yg miring dikit 😂

Sekitar setengah jam berlalu, eh, bapak bule tadi datang lagi guys. Wah berarti emang jodoh kita pak ketemu lagi😂 Dia akhirnya ambil semua produk yg dia tanyain tadi. Sekali lagi semua😂😂 OTC flu & cough 6 brand, permen pelega tenggorokan 3 brand, sama balsem-balsem tadi masing-masing 2 packages loh dibeli.

Pas di cashier gue tanya dong, ''You have choose too much drugs, it's enough for a long time. Is this enough?''

Bapak bule bilang,'' Should I buy some more? (laughing)''.

Dalam hati iya pak borong aja borong 😂😂😂

Ya itu aja cerita random kemarin sore. Nice convos with humble stranger😆

About me

Pengikut

Total Tayangan Halaman

top social

top navigation

Cari Blog Ini

Pages

Like us on Facebook